Selasa, 21 Desember 2010

MENGETAHUI POTENSI vs MEMANFAATKAN POTENSI


oleh Toge Aprilianto pada 05 Desember 2010 jam 16:15

Bila kita bicara tentang tumbuh-kembang anak, berkait dengan masalah pendidikan ataupun aktivitas bersekolah, maka kecerdasan menjadi hal utama yang banyak dibicarakan. Kita hampir selalu berpikir bahwa kecerdasan adalah hal yang paling penting diupayakan untuk tumbuh dan berkembang hingga titik optimal. Kecerdasan adalah faktor penentu keberhasilan hidup seorang anak, kelak kemudian hari. Jadi, kecerdasan wajib menjadi pusat perhatian dalam pembahasan tentang proses tumbuh-kembang anak, apalagi dalam pembahasan tentang pendidikan dan aktivitas bersekolah.

Untuk itu, sebelum kita bicara terlalu jauh tentang kecerdasan dan apa yang penting diperhatikan untuk mendukung proses tumbuh-kembang seorang anak, maka marilah kita renungkan sejenak: Sebetulnya, untuk kepentingan siapa kita bicara tentang hal itu. Untuk kepentingan anak atau untuk kepentingan orangtua? Bila anda menyimpulkan bahwa pembicaraan tentang hal itu adalah untuk kepentingan anda selaku orangtua, maka sebaiknya anda berhenti di sini dan abaikan naskah yang sedang anda baca ini. Bila anda menyimpulkan bahwa pembicaraan tentang hal itu adalah untuk kepentingan anak anda, ayo kita lanjutkan pembahasan tentang itu.

Bila kita setuju bahwa anaklah yang menjadi pusat perhatian, maka seluruh pemikiran kita tentang hal itu perlu diarahkan berdasarkan kepentingan anak. Berkait dengan isu tentang kecerdasan, maka yang perlu dipahami adalah bahwa fokus perhatian kita selalu pada MAKNA kecerdasan, bukan SKOR atau nilai angka yang mewakili/ menunjukkan posisi si anak dibanding anak lain di kelompok usianya. Jadi, pola berpikir kita perlu diarahkan untuk memahami bagaimana tingkat kemampuan si anak mengolah dan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki untuk hidup lebih baik. Bukannya sekedar menjadi tahu apakah si anak dinilai lebih baik atau kurang baik, dibanding anak lain yang seusia.

Hal ini penting diperhatikan, karena kecerdasan pada prinsipnya akan berkait erat dengan kemampuan belajar. Semakin tinggi tingkat kecerdasan seorang anak, semakin tinggi juga kemampuan belajar yang dimiliki. Dengan demikian, wajar kalau anak yang kurang cerdas menjadi nampak kurang punya minat belajar. Masalahnya, kita tidak boleh membabi buta menyimpulkan bahwa anak yang kurang memiliki minat belajar adalah anak-anak yang kurang cerdas. Artinya, anak yang kurang cerdas memang akan cenderung kurang memiliki minat belajar; tapi mereka yang kurang punya minat belajar, tidak selalu berarti kurang cerdas. Ada banyak faktor lain yang membuat mereka tidak memiliki minat belajar, dan beberapa diantaranya sama sekali tidak berkaitan dengan kecerdasan.

Faktor paling rawan adalah kurangnya pemahaman orangtua dan/atau guru, tentang belajar. Seringkali, anak-anak menjadi enggan atau malas belajar, justru karena mereka disuruh belajar. Tidak ada satupun anak yang mau disuruh belajar. Justru, kalau ada anak yang bersedia disuruh belajar, berarti ia ada di luar kategori normal. Hal ini juga penting diperhatikan karena berkaitan dengan proses perkembangan kecerdasan. Kalau kita mau anak-anak belajar, maka yang kita perlu lakukan adalah menyuruh mereka bermain. Makin banyak aktivitas bermain yang anak lakukan, makin banyak juga proses belajar akan terjadi, yang pada gilirannya berarti makin bagus juga perkembangan kecerdasannya.

Mengapa bermain? Ya, karena bermain akan mengakomodasi proses asimilasi (pertemuan informasi lama [di dalam ingatan] dan informasi baru) serta proses akomodasi (percampuran informasi lama dan informasi baru guna membentuk pemahaman dan pemaknaan baru). Hal ini yang akan membuat saraf-saraf otak dirangsang untuk saling terhubung dan berkaitan. Hal itu yang membuat potensi kecerdasan seseorang bertumbuh dan berkembang mencapai batas optimal sesuai kapasitas yang dimiliki. Kalau tidak terjadi proses itu, maka saraf-saraf di otak itu akan seperti jalanan di kompleks perumahan yang meski banyak, buntu semua karena diportal, sehingga tetap tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain asimilasi dan akomodasi, proses lain yang tidak kalah penting, bahkan juga menjadi faktor yang menentukan adanya perbedaan tingkat kecerdasan antar individu, adalah proses ekuilibrium. Ketika mendapat masukan informasi baru, maka sistem kecerdasan kita mengalami gangguan keseimbangan. Kalau proses ekuilibriumnya berjalan baik, maka proses asimilasi dan akomodasi akan berjalan baik. Kalau proses ekuilibrium tidak optimal, proses asimilasi dan akomodasi juga akan terganggu, sehingga proses belajar secara keseluruhan juga terganggu.

Kembali pada keterkaitan dengan upaya mendukung proses tumbuh-kembang anak, masih banyak juga orangtua yang merasa perlu melakukan tes-IQ guna mengetahui potensi kecerdasan anak. Mengenai hal ini, yang paling perlu diperhatikan oleh orangtua adalah untuk apa tes itu dilakukan. Artinya, kalau orangtua mengetahui angka nilai IQ yang dimiliki si anak, apa tindaklanjutnya kemudian? Perbedaan apa yang akan memberikan nilai tambah bagi anak, setelah angka nilai IQ diketahui. Bila memang tes itu dilakukan untuk kepentingan anak, maka orangtua punya tanggungjawab memastikan pengetahuan tentang angka nilai IQ itu akan membawa manfaat buat si anak. Bila anak tidak mendapatkan manfaat secara faktual, dari angka nilai IQ yang diketahui orangtua, maka sebaiknya tidak perlu apa upaya pemeriksaan kapasitas dan potensi kecerdasan karena hal itu merupakan sebuah pemborosan energi fisik, mental serta material-finansial. Selanjutnya, lebih baik energi itu digunakan untuk seluas-luasnya menyediakan kesempatan mencoba, menelusuri, meng-utak-atik, bertanya dan mencari jawaban, agar anak memiliki kesempatan belajar untuk mengembangkan potensi kecerdasannya secara maksimal.

Sampai di sini, mungkin anda lalu bertanya-tanya: kalau pemeriksaan kapasitas dan potensi kecerdasan tidak WAJIB dilakukan, karena akan bergantung pada kebutuhan dan manfaat bagi anak, lalu apa yang perlu dilakukan orangtua untuk membantu proses tumbuh-kembang anak-anak hingga ke titik optimal? Jawaban dari pertanyaan itu ada pada pemahaman tentang “KETERAMPILAN HIDUP”. Agar potensi yang dimiliki anak dapat berkembang optimal, maka orangtua perlu menjamin bahwa anak-anak anda memiliki keterampilan hidup yang memadai. Alasannya, kita memerlukan seluruh potensi kecerdasan yang kita miliki untuk dapat menjalani kehidupan dengan nyaman. Makanya, kita perlu memastikan bahwa potensi yang kita miliki siap dimanfaatkan untuk menghadapi setiap peristiwa hidup.

soal keterampilan hidup, ada di buku "saatnya melatih anakku berpikir".

salam,

ge



Note : Harga buku Rp. 45.000

berminat : PM or buzz ke Ym : shinta_wahyuni

Relasi = Rejeki

by : Toge Aprilianto

Senyampang kita masih berstatus manusia, maka relasi menjadi sesuatu yang niscaya kita alami. Lebih dari itu, relasi merupakan salah satu penyokong hidup yang penting kita rawat, karena kita akan menghadapi kesulitan tak terkira bila gagal memiliki relasi yang optimal. Sampai di sini, saya percaya bahwa Anda akan setuju. Sekarang, apakah Anda masih akan setuju, bila saya menyatakan bahwa relasi sesungguhnya selalu hanya bersifat personal, bukan sosial? Mari kita renungkan..

Bila kita bicara relasi, maka kita perlu lebih dulu memahami makna sebuah perilaku. Relasi adalah situasi dimana perilaku antar orang yang terlibat akan saling berinteraksi. Itu sebabnya perlu bicara soal perilaku dulu, untuk dapat memahami apa makna yang terkandung di dalam relasi. Apalagi bila saya sebut relasi selalu bersifat personal dan bukan sosial, sementara selama ini kita sering berkata atau menggunakan istilah “relasi sosial”.

Secara ringkas, perilaku dapat dipahami sebagai upaya untuk mendapat kenyamanan. Jadi, tiap kita hanya akan berperilaku ketika kita merasa tidak nyaman sehingga ingin mendapat kenyamanan atau saat kita merasa ada hal-hal yang mengancam keyamanan yang kita miliki saat itu. Hal pokok yang kedua, dalam konsep perilaku, adalah bahwa perilaku merupakan hasil integrasi antar komponen pembentuk yang saling berusaha mengendalikan apa yang kita tampilkan dalam aktivitas yang kasat mata. Tanpa integrasi, maka perilaku tidak akan dapat berlangsung secara optimal sehingga tujuan mendapat kenyamanan juga pasti gagal. Contoh: bila kita berjalan, maka aktivitas berjalan itu baru dapat disebut perilaku yang optimal bila aktivitas berjalan itu betul-betul kita sadari, kita nikmati, dilakukan dengan maksud yang jelas dan sungguh mendapat dukungan penuh dari kondisi fisik kita saat itu. Bila misalnya kondisi fisik tidak mendukung, maka aktivitas berjalan pun bisa jadi tidak optimal. Pincang, misalnya. Bila kita tidak menyadarinya, bisa jadi masalah karena berarti kita berjalan sambil melamun. Bila kita tidak dapat menikmati aktivitas berjalan itu, maka kita akan merasa tidak nyaman selama aktivitas itu terjadi.

Dengan demikian, bila kita menjalin relasi dengan orang lain, itupun pasti hanya akan optimal bila kita melakukannya dengan perilaku yang optimal juga. Secara awam, kondisi inilah yang kita sebut “segenap jiwa-raga”. Bila relasi dibangun tanpa dukungan perilaku yang optimal, maka relasi yang mungkin terjadi juga akan sulit memberikan manfaat buat pihak-pihak yang terlibat. Hal ini sangat lekat kaitannya dengan kenyamanan, karena relasi selalu hanya akan dilakukan selama ada manfaat yang bisa kita peroleh darinya. Jadi, relasi sehat sebetulnya hanya tentang perilaku nyaman. Selama ada pihak yang merasa tidak nyaman, sehingga tampilan perilakunya menjadi tidak optimal, entah ragu-ragu atau merasa terpaksa, maka sadar atau tidak ia akan membuat pihak lain dalam relasi itu juga menjadi tidak nyaman. Kalau sudah begitu, cepat atau lambat relasi tersebut akan rusak karena tidak lagi dirasakan bermanfaat oleh pihak-pihak yang terlibat.

Dari sini kita bisa mencermati bahwa relasi itu sesungguhnya hanyalah alat untuk mendapatkan rasa nyaman yang kita perlukan. Jadi, bila kita melakukan aktivitas yang melibatkan orang lain, maka hal itu sebetulnya juga hanya dimaksudkan untuk mengambil manfaat dari orang-orang yang ketika itu kita libatkan. Walau aktivitasnya nampak dilakukan bersama-sama, tapi yang terjadi sebetulnya hanyalah proses internal dalam diri tiap-tiap orang yang terlibat. Bahkan mereka yang perannya jadi pihak yang dilibatkan, sebetulnya juga hanya berusaha mendapatkan manfaat dari orang-orang yang mengajaknya terlibat. Coba direnungkan, apa yang membuat mereka memutuskan untuk mau diajak terlibat dalam relasi itu? Tentu, karena mereka menilai bahwa keterlibatan mereka akan membuat mereka mendapatkan manfaat bagi kepentingan pribadinya. Bila tidak terlihat akan ada manfaatnya, maka dapat dipastikan mereka akan menolak ajakan itu. Catatan: manfaat di sini tidak selalu berarti hal-hal yang sifatnya material-komersial. Sekadar perasaan nikmat karena suka melakukan hal itu, juga termasuk manfaat yang mungkin mendorongnya setuju untuk terlibat.

Sampai di sini, jelas bahwa relasi sesungguhnya selalu bersifat personal, bukan sosial. Ketika relasi terbangun, hal itu menunjukkan bahwa orang-orang yang terlibat di dalamnya menilai bahwa relasi itu akan membawa dampak menyenangkan bagi mereka masing-masing. Bukankah begitu adanya? Jadi, apa Anda dapat setuju dengan saya, bahwa relasi selalu bersifat personal?

Selanjutnya, karena sifatnya yang personal itu, maka kita juga perlu memahami bahwa relasi selalu memerlukan KESEPAKATAN. Tanpa kesepakatan, maka kita pasti kesulitan mendapatkan orang yang bersedia diajak terlibat dalam sebuah relasi yang kita harapkan dapat memberikan manfaat dan kenyamanan buat kita. Kesepakatanlah yang menentukan apakah sebuah relasi dapat dibangun dan berfungsi optimal demi mendukung upaya memperoleh manfaat dan kenyamanan buat semua pihak yang terlibat. Itu sebabnya kita sering mendengar istilah “win-win” kalau kita bicara tentang relasi. Memang, relasi yang optimal hanya akan terjadi saat atmosfer di dalamnya bersifat “win-win”. Bila tidak, pasti akan ada pihak yang merasa dirugikan sehingga ia juga merasa kehilangan kenyamanan. Dampaknya, ia akan berbuat sesuatu untuk mendapat kenyamanan, entah apa cara dan bentuknya, termasuk membuat orang lain menjadi tidak nyaman juga. Bila ini yang terjadi, maka relasi dapat diramalkan bubar dan tidak ada lagi yang bisa mendapatkan manfaat dari relasi tersebut.


catatan:

lebih komplit tentang relasi yang bersifat personal, ada di buku “Kurangkul Diriku Demi Merangkul Bahagiaku”.

salam,

ge


Note :

Harga Buku Rp. 40.000

berminat : pm or buzz ym ke shinta_wahyuni



Kembali lagi

setelah setahunan gak gitu aktif di mp
seneng rasanya bisa balik lagi disini...

rindu nulis
rindu cerita ke temen-temen
rindu curhat ke temen-temen
rindu baca sharing dan cerita temen-temen
rindu tips, rindu keponakan disini

akhirnya
aku putuskan kembali ke rumahku....

ahhh
emang lebih nyaman disini.... :)


Sabtu, 18 Desember 2010

Dika bukan Anak Biasa

Ya.. ya... dika memang bukan anak biasa.

Sejak kapan ya saya sadari ini..... hmmm sejak dika umur 2 tahun rasanya, ketika tetangga-tetangga saya berkata
"o, ternyata dika tidak bisu ya ",
"o, ternyata dika bisa ngomong",
"o, ternyata dika ngerti juga kalo diajak ngomong"
dan o, o, lainnya

Gak cuma dari tetangga, bahkan orang-orang terdekat kamipun sering mempertanyakan kenapa dika belum bisa A, belum bisa b, kenapa tidak seperti si a, seperti si b, deelel.

Sedih ? bangeet
Saya sempet mempertanyakan apa salah saya sama Allah, kenapa dika harus beda, mengapa tidak seperti anak-anak yang lain... tapi apakah dengan begitu masalahnya selesai ?
Tidak, meski saya bertanya terus, Allah tidak menjawabnya dengan membuat dika seketika sama seperti anak-anak lain.

Ada beberapa proses yang saya lalui,
blogging ataupun akhirnya melihat langsung, saya menemukan bahwa banyak anak-anak yang tidak diberikan keberuntungan seperti dika.

akhirnya menyadarkan saya ....
shinta, lihatlah..... dika memiliki tangan, jari, kaki, badan, wajah yang utuh serta senyum yang manis dan dan keluarga yang lengkap yang mungkin tidak dimiliki anak-anak lain.
berjuanglah demi anak ini.... anak yang telah kau tunggu sekian lama
Ayo bulatkan tekadmu, tambahkan kesabaranmu dan semangatmu untuk anak ini.

Jatuh bangun saya mengendalikan semangat saya, maju-mundur waktu diawal,
lelah, tentu saja..... tapi ini tidak boleh berakhir.

Akhirnya suatu waktu, saya bertemu dengan teman-teman hebat yang juga memiliki anak-anak luarbiasa, dan saya bener-bener kagum atas apa yang telah mereka lakukan untuk anak-anak ini, dan hal ini bener-bener memompa semangat saya, bahwa apa yang saya lakukan belum maksimal, masih banyak tahap, masih butuh kesabaran yang luar biasa dalam mendampingi dika.

bermainlah dika..... berlarilah dika .....tersenyumlah dika seperti apa adanya....

mami disampingmu,membimbingmu, menjagamu.... dan berjuang untukmu.
mari kita taklukan dunia bersama..... :D

lihatlah.... mami tidak lagi menangis karena perbedaan ini
mami tidak lagi peduli akan kerutan kening orang yg melihatmu

Karena DIKA bukan anak biasa dan mami akan jadi Ibu yang luar biasa untukmu.....
dan mami sungguh bersyukur karena memilikimu....

*terinsiprasi dari pesan te-lena diinbox-ku.... terima kasih te.

~181210~

Jumat, 17 Desember 2010

Nanya donk

Udah lama banget gak ngempi kerena pusing baca inbox yang segunung dan isinya cuma jualan aza.... yang anehnya dia bukan contact gw. Udin lama gak ngempi di Kompie jadi bener-2 gaptek sama isinya mp

Kangeen banget bisa baca jurnalnya temen-2 gw dan nulis lagi. Tapi keburu empet sama inboxnya....

Jadi pengeen milter inbox, biar bisa ngikutin terus cerita temen-temen tapi gimana caranya.
Gw dah ke my account, custom filter, isi nama filtre, centang hanya me, dan isi nama diu kolom

Also show posts from these people:

tapi kenapa gak berfungsi ya ? pas tulis nama itu kita isi nama apanya ya ....

atau memang caranya yang salah... bantuin ya

kalo di bb bisa disetting gak sih, cuma mp temen-2 yg kita mauin aza yg muncul diinbox ?

thank youu ya... muach, muaaach

Minggu, 21 November 2010

TERSEDAK DURI IKAN


Ini pengalaman Dika pertama kalinya tersedak Ikan setelah bertahun-tahun makan Ikan.

Saat itu di Kawali Restoran, saya, papi n Dika makan bersama, menu pilihannya serba Ikan.

Seperti biasa Dika pilih makan sendiri, ambil setengah ekor Ikan goreng plus saya potongi Ikan tim. Duri-duri saya pastikan tidak ada disetiap potongan ikan.

Ketika tinggal 2-3 suap nasi plus lauk di piring dika, saya sempat lengah, ntah dika ambil sendiri ikan gorang, ntah ikan timnya, tapi tiba-tiba dika berenti makan dan seperti kesulitan nelan, trus teriat sakit ma.

Repleks saya tinggalkan piring saya dan bertanya ada apa, saya tepok pelan punggungnya kemudian saya angsurkan aqua botol ke dika, bisa minum n dia bilang udah gak papa. Ah syukurlah saya sudah setengah panik tadi.

Saya ambil piringnya, minta dia stop makan n cuci tangan di wastafel.

Setelah balik ke saung kami, duduk disamping papi, dia teriak, sakit mi, sakit...dengan air mata yg mengalir. Apa yang sakit dika, dia tunjuk gigi, dan ambil tusuk gigi minta saya bersihkan giginya, sudah saya bersihkan, tapi dia tetep gak nyaman, saya bilang lagi apa yg sakit, tetep tunjuk gigi, saya tanya lagi apa dika, leher atau gigi (dengan menunjuk leher n gigi) tetep pilih gigi. Saya minta dia minum hangat n makan nasi tanpa kunyah, tapi dika nolak. Setelah muntah dikit dika bilang udah gak sakit lagi.

Kami putuskan untuk pulang, ketika mendekati meja kasir, dika batuk dan muntah hebat, saya tarik dika ke wastafel krn gak enak dg tamu yang lain, muntahlah dia di wastafel, diakhir muntah ada sedikit darah...waaaks saya cukup kaget, hadoooh pasti durinya masih ada n tenggorokannya luka.... saya kasih minum dan dika cukup tenang. Dia bilang lagi, udah mi, gak papa. Saya tanya papi gimana, apa ke dokter saja ? Papi bilang pulang aza dulu, liat di rumah gimana.

Tanya2 beberapa temen, dikasih beberapa saran, saya pillih observasi dulu setelah diskusi dengan papi.

Tapi pas bangun tidur, dika batuk dan muntah lagi dengan disertai sedikit darah..... Oh noo darah lagi, bbm n bbg teman, kemungkinan luka makanya berdarah muntahnya. Disarankan minum air dingin atau ice cream untuk menutup lukanya.

Bangun dari tidurnya lagi, dika masih tampak kesakitan, nangis n merengek terus, minta di gendong, pegang leher n kupingnya setiap bilang sakit. Setelah diskusi dengan papi saya putuskan, tuk ngecek aja ke dokter, tuk memutuskan apa masih ada duri atau hanya tinggal lukanya saja. Konsul ke dokterku yg jauh diujung langit, dia bilang ke THT saja mbak untuk mastikan ada durinya atau tidak, semakin mantap saya ke dokter.

Sebelum berangkat, saya minta dika makan dulu (sekalian mo tau apa lehernya masih sakit atau tidak buat nelan), suapan 1-5 dika masih meringis setiap kali nelen, seperti biasa dika minta tambah, okeelah boleh untuk sore ini tambah agak banyak, ooooo semakin kesini kok dika tambah nyaman nelennya, minumnya juga udah gak menyeringai lagi.... Alhamdullilah, saya bilang papi, piii kita gak jadi ke dokter ya, kita observasi lagi, dika sakit beneran atau sakit manja, kalo emang beneran, baru kita ajak dika ke dokter. Sip kata papi.

Gak lama kemudian, tante jemput dika untuk dibawa ke rumah mbah. Saya n papi nyusul gak lama kemudian. Kita makan malam bareng disana, termasuk dika. Hehehe... Makannya banyak n tidak kesakitan. Yiiiiipiiie saya berteriak dalam hati, Alhamdullilah, Alhamdullilah teriak saya, syukurlah keputusan saya untuk tetep observasi membuahkan hasil yang baik untuk Dika.

Sungguh untuk tidak panik, butuh hati dan pikiran yang tenang, butuh banyak dukungan dari keluarga dan teman.

Selalu ada pengalaman pertama yang bikin kita panik, dan saya bersyukur bisa belajar dari rasa panik kali ini.

Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang Kau berikan agar aku terus belajar n belajar.

Terima kasih ya Dika, untukmulah mami akan terus belajar.

Terima kasih papi untuk selalu membuatku kuat.

Terima kasih temen2, yang tak lelah memberikan saran n dukungan yang hebaat.

Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat buat temen2 ya. Enak rasanya memiliki rasa panik, tanpa rasa ini kita tidak akan belajar, tinggal bagaimana kita mengelola rasa ini dan tetap berpikir Rational.

Salam
Shinta